Skip to main content

Posts

Sastra Reboan, “Dalam Catatan” Yang Tak Sekedar Catatan

OLEH: YO SUGIANTO, Pengelola Sastra Reboan | DALAM puisi “Kesaksian” yang dilagukan oleh Kantata Takwa dengan indahnya, WS Rendra mencatat gejala jaman saat itu dengan mata hari kepenyairannya. Catatan yang tetap relevan dengan kondisi saat ini, dan juga tetap penting untuk terus dibaca. Untuk mengingatkan kita, bahwa penyair selalu mencatat jamannya. (Agenda Acaranya bisa disimak di sini: Reboan Kali Ini Hadirkan “Dalam Catatan” ) Berbagai peristiwa yang dicatat, yang tertuang dalam catatan, dengan memperdengarkan pertanda-pertanda, menunjukkan arah bagi perbaikan dan pencerahan. Di sinilah kesaksian menjadi bermakna, karena ia tak sekedar catatan tapi peringatan bagi siapa saja, termasuk Presiden, anggota DPR dan DPRD yang makin kekanakan, lembaga peradilan yang makin disoroti, pengusaha yang membabat hutan atau tambang, serta diri penyair itu sendiri. Seperti, mengutip larik “Sajak Sebatang Lisong” karya Rendra : ”Apalah artinya renda-renda kesenian, bila ter...

Asupan Sastra Reboan Malam Ini

Forum Sastra Reboan malam ini, Rabu, 25 Februari 2015, mengambil tema “Asupan”. Kali ini, forum itu akan menyuguhkan berbagai menu. Ada pengenalan buku antologi puisi “Titik Temu”. Buku ini menampilkan karya 60 penulis sastra seperti Masita Riany, Fendy Kachonk, Umira Ramata, Dewi Nova, dan lain-lain. Menurut Yo Sugianto, salah satu motor Sastra Reboan, forum itu juga akan diramaikan oleh sejumlah penyair dari Bandung. “Penyair dari Bandung yakni Ratna M.Rochiman, Epiis Gee dan Rezky Darojatus Solihin akan tampil, khusus datang untuk Sastra Reboan bersama penyair Matdon,” tutur Yo dalam akun Facebooknya. Pembaca puisi lainnya adalah Diana Prima Resmana, penulis dari Forum Sastra Bekasi dan Yoni Efendi, karyawan yang ingin menerbitkan buku puisi karyanya sendiri. Tak kalah menarik adalah penampilan tari Salsa yang dibawakan Athika Rahma Nasu, seorang penari dan instruktur. Ada pula Sanggar Svadara – Traditional Dance and Music, yang merupakan perkumpulan pecinta ...

Titik Temu Hingga Tari Salsa di Sastra Reboan

“Asupan”, kata yang sering terdengar,dipakai untuk pentingnya gizi bagi manusia. Kata yang unik karena tak ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan adanya di kamus Bahasa Sunda.Asupan berasal dari kata “asup” yang artinya sama dengan “masuk”di KBBI. Asupan tak hanya untuk soal gizi, kita pun hidup dengan banyak mendapat asupan, entah itu dalam seni modern, komunikasi dan lainnya. Namun, kita juga mendapat asupan dari diri sendiri, dari para pemimpin yang sayangny a tidak memberikan gizi bagus. Tak usah bicara dunia politik yang makin semrawut, sastra pun masih jadi anak tiri, tak pernah disinggung oleh petinggi Negara. Sastra Reboan mencoba mengambil tema “Asupan” dengan harapan ada yang bisa masuk dalam relung kesadaran kita dari para pengisi acara nanti.

Kebersamaan Dalam Sastra Reboan Jakarta

Saat para penggemar musik metal, yang juga anggota komunitas penunggang motor, lengkap dengan atribut khasnya jaket dengan logo burung condor, mendengarkan puisi, apa yang terlihat? Mereka menyimak dengan serius, di tengah obrolan yang tak berisik atau sapaan ketika ada rekannya yang datang. Malam  itu, Rabu (28/01/2014) MMC-Ousiders Nationz, salah satu komunitas klub motor di Indonesia yang telah berusia lebih dari 25 tahun, dan tersebar di 12 kota, datang dan mengisi acara Sastra Reboan. Buku “Outsiders” – Kisah Penunggang Motor ditampilkan dalam obrolan di panggung bersama dua penulisnya, Isfandiari Mahbub Djunaidi dan Iwan Rasta. Isfandiari juga naik panggung lagi membawakan sebuah lagu. Buku setebal 284 halaman itu ditulis dengan bahasa yang ringan, puitis dan mampu memberikan gambaran yang berbeda tentang para anggota klub motor itu. Berikut cuplikan dari halaman 32 buku itu :   Pada siang yang malas, Pantai Pangandaran boleh bersyukur ditin...

Pembatas Buku Daun Daun Hitam sampai Titik Temu di Kampung Jerami

Chiara, anakku. Aku ingin mencatatnya. Begini, 14 Desember 2014. Namanya Chiara. Dia menyatu dalam diriku. Kembali ke tanah, kembali padaNya. Aku akan mengingatnya.                                                         (Yuli Nugrahani , Desember 2014)   Peziarah & Pejalan Sunyi Ia menyukai alam dan tanaman, maka sesekali, diakhir pekan, bersama keluarga yang sangat ia kasihi, ia akan menyusuri lekuk gunung dan lembah, merasakan dingin kabut dan daun-daun basah, menghirup udara pegunungan dalam-dalam, lalu membangun tenda, bermalam dan paginya berdiri di ketinggian. Sekali waktu ia memungut hal-hal sederhana untuk menjadi bagian dalam puisi dan cerpen-cerpen...

“Melejitkan Seni dan Budaya sebagai Hak Masyarakat” Peluncuran dan Bedah Buku Antologi Puisi TITIK TEMU

Konfrontasi-Sumenep menjadi kota pertama yang mengumandangkan Antologi Puisi TITIK TEMU, sebuah antologi puisi dari 60 penyair nusantara bertema Hak Asasi Manusia yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami. Acara ini digelar oleh Komunitas Kampoeng Jerami bersama dengan RRI Sumenep pada Minggu, 4 Januari 2015, dimulai pada 08.30 sampai selesai. Penghormatan pada seni dan budaya menjadi bagian utama dalam kegiatan yang diadakan di gedung Kesenian LPP RRI Sumenep ini dengan pembicara Moch. Khoiri, dosen … dan juga salah satu penulis buku, Fendi Kachonk, sastrawan dari Sumenep dan juga pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami dengan moderator Much Khoiri Dosen Sastra Ingris, seorang penyair perempuan dan 9 (0rang) serta Sejumlah penyair akan membaca puisi dalam acara ini selain musikalisasi puisi dan pentas seni lain. Fendi Kachonk menandaskan impian Komunitas Kampoeng Jerami dalam ranah sastra dan budaya Indonesia lewat penerbitan buku ini. Selain ingin menya...

Kampoeng Jerami Akan Luncurkan "Titik Temu" di RRI Sumenep

Kampoeng Jerami sebagai komunitas para sastrawan akan meluncurkan antologi puisi “Titik Temu”, dengan mengangkat tema Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan buku kumpulan puisi dari sejumlah karya penyair tanah air dan luar negeri.  Antologi puisi yang diluncurkan Minggu, 4 Januari 2015 pagi, ditempatkan di RRI Stasiun Sumenep akan dihadiri sejumlah penyair yang nantinya akan dilanjutkan diskusi sastra. Ketua Kampoeng Jerami Fandi Kacong menyebutkan, ada sekitar 60 penyair yang terdiri dari berbagai daerah di Indonesia, di samping itu juga Komunitas Kampoeng Jerami mendapatkan kepercayaan para penyair Nasional, seperti Korrie Layun Rampan, dan beberapa penulis ternama lainnya.  “Meski memang semua terbuka dan dibuka untuk semua orang, maka keberagaman faktor, perbedaan usia, profesi, agama dan lamanya proses tidak menjadi perbedaan pada buku ini sebab semua menjadi lebur pada satu titik dan bertemu di titik kemanusiaan”, ungkap Fa...